Jumat, 08 April 2011

BUKTI ORANG SUKSES DI TIANSHI UNICORE

Rizky Kanata
Saya Ingin Memiliki Kebebasan Waktu

Rizky KanataREWARD Pesawat & Kapal Pesiar (Plane & Yatch) ini membuat saya merasa menjadi orang yang diberkahi Allah SWT. Memang semua ini terjadi karena adanya dukungan sistem yang sangat baik. Tetapi semua tidak terlepas dari anugrah dan berkah dari Allah SWT yang telah mempermudah jalannya.

Selain sistem, integritas menjadi faktor utama dari keberhasilan ini. Saya harus melakukan apa yang saya katakan. Karena, Network Marketing adalah bisnis pemberdayaan manusia. Leader harus bisa menjadi contoh, sehingga banyak orang yang ikut. Saya ikut saja apa yang dilakukan oleh Leader & Sistem. Beliau tidak pernah berhenti untuk memotivasi diri dengan impian-impiannya yang besar.

Impian adalah modal utama untuk sukses di bisnis ini. Saat ini Saya sedang dan ingin mewujudkan impian di Dream Book ke-3. Kumpulan impian dua Dream Book sudah banyak yang kami wujudkan. Bangunlah impian anda dengan mengikuti pertemuan, mendengarkan kaset, membaca buku, dan sering bertemu dengan para leader. Karena impian mereka akan menginspirasi impian anda.

Awal membangun bisnis ini, saya hanya ingin memiliki penghasilan sendiri. Karena selama kuliah, sebagai anak kos, uang saku yang dikirim orangtua pasti ada batasnya. Leader Saya mengajarkan bahwa, "jika kamu belum menemukan apa impianmu, berarti kamu belum menentukan tujuan hidup. Ingin bagaimanakah kehidupan kamu 1 bulan, 1 tahun, 5 tahun bahkan 10 tahun kedepan? Jika tidak tau, berarti sama saja seperti mayat hidup!" Wah, sangat mengerikan menjalani hidup seperti itu!

Rizky KanataSetelah mengikuti Seminar Tianshi, impian Saya pun berubah, ingin memiliki kebebasan waktu. Saya sedih melihat ayah yang tidak memiliki kebebasan waktu walaupun memiliki bisnis besar. Saya harus bisa memberikan waktu untuk keluarga sebanyak mungkin.

Reward ini saya dapatkan karena bekerja melebar. Setelah *8 kami lakukan pelebaran jaringan. Membangun kaki baru setelah *8 itu menjadi tantangan besar. Ada poin lebih bagi yang melakukan pelebaran. Tidak hanya untuk reward saja yang bisa diraih, bonus pun jauh lebih besar.

Saya hanya ingin katakan, sisihkan waktu 2-3 jam perhari untuk membangun jaringan bisnis Anda di Tianshi. Sisihkan waktu menonton televisi Anda yang rata-rata menghabiskan 4 jam per hari. Dalam dua tahun Anda akan berhasil mencapai *8 & mendapatkan KEBEBASAN Waktu & Keuangan. Kini kami berhasil menyelesaikan mendapat reward terakhir Tianshi berupa Villa tahun 2008 ini. Ini adalah awal bukan akhir untuk membangun kebebasan waktu". Gabung Disini

Made Iwan Dharma Putra

Hanya Satu Kata, Buktikan!

Made Dharma PutraMade Iwan Dharma Putra adalah satu dari banyak orang yang hanya ingin hidupnya diisi dengan kesenangan. la pun menolak meneruskan kuliah hanya karena ingin hidup senang-senang. Tamat SMA, ia bekerja sebagai Disc Jockey (DJ) di beberapa klub malam di Denpasar Bali.

SEJAK remaja, Iwan DP ingin hidup senang-senang. Satu profesi yang dianggapkan bisa mewujudkan impiannya itu adalah Disc Jockey (Dj). la menekuni profesi itu sekitar sembilan tahun. "Saya memang senang hura-hura dan DJ itu kan kelihatannya keren. Saya juga ketemu istri ketika sedang kerja sebagai DJ," kata Iwan.

Tahun 1996 Iwan menikahi gadis Jakarta Eliana Megawati, setahun kemudian memiliki anak. Tetapi Iwan bersama istrinya masih tinggal di tempat orangtuanya. Walaupun sudah punya penghasilan dari profesinya sebagai DJ, tetapi secara ekonomi Iwan masih sangat tergantung kepada orangtuanya. Iwan mengungkapkan penghasilannya sebagai DJ tidak mencukupi. Beberapa tahun setelah menikah, Iwan mulai merasakan kehidupan sebagai DJ tidak sehat bagi keluarganya. Karena harus bekerja malam hari mulai jam 11 sampai jam 9 pagi karena harus bekerja di dua klub malam di Kuta. Selain itu, profesi itu juga mendekatkan dirinya ke dunia narkoba.

Ketika menjadi DJ, yang dipikirkan hanyalah senang-senang saja. "Saya tidak memiliki impian mau jadi apa nantinya, hanya mengalir saja. Hari ini dinikmati, besok urusan nanti. Tinggal sama orangtua, jadi kalau kurang-kurang duit, dicukupi sama orangtua," kata Iwan. Ia mengaku, bahwa selama bekerja sebagai DJ tidak ada harta yang bisa dikumpulkan. "Kami tidak punya apa-apa. Mobil dipinjami sama kakak. Sampai akhirnya, istri mengatakan: ..."mau dibawa kemana saya dan anak-anak. Kamu ini nggak punya apa-apa, sendok aja nggak punya!"... Saya baru tersadar, saya tidak mau main-main lagi, saya harus kerja kata Iwan. Melihat kondisi seperti itu, istrinya ingin kembali sekolah agar mendapatkan keterampilan dan bisa membantu ekonomi ketuarga. Artinya, mereka harus hidup terpisah. Iwan di Bali dan Eliana kembali ke Jakarta untuk sekolah, sementara anak mereka baru berusia tfga bulan.

Made Dharma PutraIwan pun lalu mengurangi frekuensi kerjanya sebagai DJ. Hanya saja karena merasa tidak memiliki keterampilan apa-apa, ia pun akhirnya nyambi bekerja di bengkel milik kakaknya, Heru Kuncoro dan Sri. la juga menekuni profesi jual beli mobM bekas. "Apa sajalah, yang penting bisa dapat uang," kata Iwan. Kemudian, mertua memberi modal untuk membuka usaha rumah makan, semacam kafe tenda. "Kami buka di halaman bengkel Pak Heru pada malam hari. Usaha ini sempat kami tekuni selama lima tahun. Profesi DJ betul-betul sudah saya tinggalkan. Tetapi setelah memasuki tahun ke enam kami merasa usaha Chines food ini tidak menghasilkan apa-apa," kata Iwan.

Usaha tersebut ternyata tidak menyelesaikan masalah ekonomi keluarga Iwan. Ketika itulah Iwan diajak sama Pak Heru dan Bu Sri untuk mendengarkan presentasi Pak Frengky. Iwan pun seperti menemukan peluang. la yakin bisa sukses di Tianshi dan segera pulang, karena ingin cepat memberitahu istrinya. Sampai di rumah, Eliana serta merta menolak bisnis MLM yang dianggapnya tidak memiliki masa depan. "Padahal, saya sudah yakin melalui bisnis ini bisa memiliki rumah dan mobil sendiri karena presentasinya seperti itu. Tetapi, besoknya saya tetap bergabung dengan Tianshi," kata Iwan. Iwan berpikir penolakan Eliana itu hanya sementara sambil berharap besoknya akan berubah. Tetapi, istrinya tetap tidak bergeming, bahkan Iwan dilarang berbicara mengenai Tianshi di rumah, "Saya tetap jalan, dan berkata kepadanya, tolong beri kesempatan dua tahun lagi untuk membuktikan bisnis ini bisa mengubah hidup kita," kata Iwan.

Mereka pun sepakat, tetapi Eliana nggak mau diajak bicara Tianshi. Sikap istri ini semakin menambah semangat Iwan dan secepatnya ia ingin membuktikan. "Saya pesan kepada teman-teman yang lain, kalau keluarga dekat, istri, bahkan orangtua tidak mendukung, hanya ada satu kata, BUKTIKAN SAJA," kata Iwan. Mertua juga sangat tidak setuju. Mereka mengatakan, sudah bagus dibuatkan usaha restoran, malah mengerjakan yang lain. Menurut mereka, kalau serius, restoran tersebut pasti bisa lebih ramai.

Tetapi Iwan mengaku, awalnya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sampai suatu saat ia diajak Heru dan Sri untuk menghadiri acara Seminar Unicore. Saat itu pembicaranya adalah Pak Louis Tendean, seorang yang sukses berperingkat Diamond. Momen itu yang mengubah paradigma dan semakin menumbuhkan motivasi. Iwan juga sempat di ajak ke rumah Pak Louis. "Saya melihat bukti dan merasakan naik mobil Pak Louis. Beliau mengatakan, "Saya ingat muka kamu, maka kamu harus dapat seperti saya" katanya di atas mobil BMW. Mulai saat itu, momentum saya pertahankan dan tidak pernah surut lagi," kata Iwan.

Iwan mengungkapkan bahwa awal-awal mengembangkan jaringan, bonusnya habis untuk biaya operasional ke luar kota. "Jadi nggak ada sisa untuk keluarga. Ekonomi keluarga sementara itu di topang dari penghasilan istri yang sudah bekerja dan masih menggunakan fasilitas rumah ibu," kata Iwan. Ketika Iwan bintang 7, bonusnya sudah bisa untuk mengontrak rumah. Mulai saat itulah Iwan tidak lagi bergantung kepada orangtua. Setelah tiga tahun, Iwan pun memboyong keluarganya pindah ke rumah sendiri. "Kami juga sudah bisa membiayai sekolah anak-anak dari bonus Tianshi!" kata Iwan.

Iwan membeli rumah di daerah turis, Kuta. Iwan juga sudah bisa membeli mobil Ford Escape. Jadi, sekarang penghasilan dari Tianshi sudah bisa untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya. "Istri memang masih bekerja disain grafis, tetapi bekerja sesuka hati saja. Jadi, kerja sebagai hobi saja," kata Iwan. Sikap Eliana pun mulai berubah dan mereka sudah punya impian bersama. Eliana sudah semakin yakin, bahwa apa yang dijanjikan Tianshi akan terjadi. "Jadi, selama menjalankan Tianshi, yang paling berat adalah tidak ada dukungan dari istri. Kalau Cuma ditolak oleh teman akrab pun bukan masalah besar," kata Iwan. Gabung Disini

Impian Rumah di atas tanah 2000 M2.
Made Dharma PutraSekarang semua keluarga mendukung saya menjalankan bisnis Tianshi. Mertua juga kini yakin dan senang sekali melihat perubahakan kami. Sekarang ini saya ingin memiliki rumah dengan luas tanah 20 are (2000 M2) di Kuta dan berharap bisa diwujudkan 1,5 tahun lagi. Iwan juga ingin memiliki Jeep Warner TJ yang akan diwujudkan dalam waktu dekat.

Impian kami, ingin membangun Yayasan untuk penitipan anak-anak dari orang tua yang sibuk bekerja dari golongan rendah seperti pembantu, sopir, dan Iain-Iain. }adi mereka tidak meninggalkan anaknya di kampung sehingga bisa selalu dekat dan dapat menyusui si anak. Pentipan ini gratis, mereka kita ajarkan pendidikan seperti sekolah. Kami rancang dalam lima tahun bisa terwujud. Hal ini terinspirasi dari pengalaman pribadi. Walaupun orangtua saya termasuk orang berada, tetapi saya jarang bertemu sama bapak. Sejak remaja saya memang tidak dekat dengan bapak, karena jarang bertemu ketika masa kecil. Istri saya juga mengalami hal serupa.

Motivasi Words.
Tangangan terbesar adalah dari keluarga sendiri. Kesuksesan itu 100% adalah tanggungjawab diri sendiri, bukan karena orang lain. Kita tidak bisa menyalahkan orangtua atau siapa pun jika belum berhasil. Saya pernah seperti itu, tetapi begitu saya berdamai dengan diri sendiri, baru bisa menghasilkan sesuatu.

Tempatkan hasrat pada profesi yang digeluti. Ketika ditawarkan pertama kali, saya langsung bisa melihat ini bisa mengubah hidup. Gabung Disini

Ady Gunawan

Menuai Sukses Di Ladang Yang Keras

Ady Gunawan & DebbyBerada di tengah persaingan yang ketat, menghadapi karakter orang Medan yang unik dan keras tak membuat pasangan Ady Gunawan dan Deby mudah menyerah. Ketika menghadapi 'badai' mereka juga terus berjuang.

Dalam jagad bisnis MLM di Indonesia, sudah lama disadari bahwa kota Medan-Sumatera Utara adalah 'ladang' yang potensial namun 'keras'. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, aktifitas ekonominya tinggi. Letaknya juga dekat dengan Singapura dan Kuala Lumpur, sehingga tak heran banyak perusahaan MLM 'beroperasi' di kota Medan yang memunculkan 'persaingan' ketat. Lagi pula karakter orang Medan tidaklah mudah untuk 'ditaklukkan'.

Hal itu diakui oleh Ady Gunawan (Silver Lion). Ketika dia bersama istrinya bergabung di Tianshi - Desember 2003 - belum banyak orang yang mengenal Tianshi. "Karakter orang Medan itu keras dan unik. Di Medan kalau mau memasukkan sesuatu yang baru, tantangannya luar biasa. Untuk meyakinkan satu orang perlu proses yang panjang," katanya.


Orang yang pertama kali - dari kota Medan - mencapai peringkat Bronze Lion dan meraih reward mobil Mercy Tianshi ini mengatakan bahwa banyak orang Medan yang cenderung lebih percaya kepada bisnis money game. "Kalau menawarkan money game, orang cenderung langsung joint. Tapi kalau bisnis MLM murni yang butuh kerja keras, mereka akan bilang bisnis orang malaslah, macam orang kurang kerjaanlah,"tukasnya.

Ady di depan supermarket BANNER STORE"Awalnya kami sering mengalami penolakan karena orang di kota Medan cenderung untuk minta pembuktian lebih dahulu. Eh, ketika kami datang lagi setelah sukses mereka masih terus minta bukti lagi. Karena itu jaringan yang kami bangun murni dari hasil memprospek orang yang kami tidak kenal sebelumnya," imbuhnya.

Tapi hal itu bukan halangan bagi mereka. "Bukan dimana ladangnya, tetapi siapa petaninya. Orang Medan itu sulit ditaklukan, tapi tergantung siapa dulu yang menjalankannya. Hikmahnya, mengembangkan jaringan di kota lain terasa mudah karena kami sudah menaklukan Kota Medan," sambung Deby.

Sempat Ragu
Sebenarnya, mereka berdua merasa trauma berbisnis MLM, karena di perusahaan sebelumnya mereka tidak mencapai kesuksesan. Sudah kerja dua tahun hasilnya tidak memadai. "Saya ditawari bergabung di Tianshi oleh seorang teman. Istri saya langsung memutuskan joint. Kami melihat marketing plannya luar biasa. Omset tidak pernah turun dan terakumulasi," tutur Ady.

Menurut Ady, istrinya yang memberi dorongan dan dukungan besar untuk total menekuni kembali bisnis MLM. Padahal saat itu bisnis Tianshi belum memberikan titik terang. "Istri saya adalah orang yang luar biasa. Kalau biasanya ada istri yang berespons negatif saat suaminya ingin terjun di bisnis MLM, istri saya malah menyuruh saya berhenti kerja dan menekuni bisnis MLM," tambahnya

"Ketika itu saya masih bekerja sebagai marketing sepeda motor. Ekonomi keluarga kami masih morat-marit. Istri saya bilang ia merasa kasihan dan tidak sabar melihat saya yang bekerja dari pagi sampai malam. Menurutnya kalau sudah 'banting tulang' penghasilannya besar tidak apa-apa, tapi sudah kerja keras, penghasilan saya memang kecil sekali. la berpikir saya sebaiknya berjuang total di bisnis network marketing saja," kisahnya.

Deby, sang istri ikut menambahkan alasannya. "Saya berpikir simple. Kami sudah lama di bisnis network marketing, malah pernah jadi top leader. Apapun caranya kami harus sukses. Kekuatan pikiran itu memang betul. Waktu mau dapat Mercy, omset kami masih jauh. Tapi karena kekuatan pikiran, eh ternyata tercapai," tambah Deby.

Jaringan Rontok
Menurut pemaparan Deby, sukses yang mereka alami sekarang bukan berarti berlangsung mulus-mulus saja. "Saat suami saya di peringkat Bintang 7, kami mengalami masalah berat. Ada upline kami membawa jaringan kami pindah ke MLM lain. Kemudian ada jaringan kami yang dipindahkan ke crossline. Waduh... itu bukan rontok lagi. Masalah ada di grup, upline, downline, dan crossline. Kami tergencet habis, kiri-kanan, muka-belakang, atas & bawah," kata Deby. "Padahal suami saya mencapai Bintang 7 hanya dalam waktu 9 bulan. Peringkat kami tertahan hampir setahun. Namun kami sangat bangga dengan perusahaan Tianshi bertindak adil. Jaringan kami yang pindah ke crossline dikembalikan," papar Deby.

Bersama Upline & Ketua APLI"Terus terang kami sempat mengalami krisis kepercayaan diri. Syukurlah kami memiliki upline leader yang luar biasa, Bapak Purno Wasono (Gold Lion). Beliau tidak hanya memberi motivasi, tapi acapkali terjun langsung membantu. Katakata pak Purno yang selalu menjadi pegangan kami adalah lebih baik hancur bersama perusahaannya, ketimbang belum apa-apa sudah pindah ke bisnis yang lain," imbuh Deby.

Satu hal lagi yang membuat mereka tetap bertahan di tengah terpaan 'badai', saat berada di peringkat Bintang 7 saja mereka sudah bisa membeli mobil sendri. "Wajar saja kalau kami tetap bertahan karena kami yakin bahwa Tianshi merupakan perusahaan yang bisa membawa perubahan kehidupan yang lebih baik," tegas Ady.

Perlahan-lahan mereka mulai membangun bisnisnya kembali. "Penyelesaiannya butuh waktu setahun. Grup kami memang hancur, namun kemudian kami kembali bangkit dengan menggunakan sistem. Dan memang berkat bantuan support system Unicore dan dukungan upline, satu per satu masalah bisa kami atasi. Malah kami bisa memperbaiki semuanya dan mengatur strategi yang bagus" jelas Deby.

Terbitlah Terang
Ady Didepan Rumah MewahnyaSelepas 'badai' Ady Gunawan dan istrinya sudah mulai memetik hasil kerja keras mereka. Selain memiliki mobil Mercy hasil reward, dari bonus-bonus Tianshi mereka juga mampu membeli tiga buah mobil. Selain itu mereka juga bisa membeli dua buah rumah. "Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh downline yang telah bekerja sama membangun jaringan kami di Medan. Kami juga berterima kasih kepada para upline Pak Purno, lbu Yustin, Pak Angel, Pak Kanis dan Pak Efendy dan Pak Louis yang telah banyak membantu mengatasi masalah-masalah kami di Medan, tanpa mereka kami tidak ada apa-apanya," katanya.

"Kami ingat betul pertama kali bertemu Pak Louis di Medan beliau langsung menjabat tangan saya sambil berkata Pak Ady nanti mobilnya warna biru kan? lbu Debby warnanya merah ya? Padahal ketika itu kami baru pertama kali berkenalan dan sekarang kenyataannya terwujud. Luar biasa sekali Pak Louis itu," tambah Ady

Secara pribadi ia punya impian bisa membeli rumah berharga satu milyar. Ady juga sudah mendaftarkan kedua orangtuanya untuk menunaikan ibadah haji. "Saya pasti berusaha keras untuk mewujudkannya. Saya ingin membahagiakan mereka," tandasnya kemudian.

Ady sangat yakin akan perkembangan bisnisnya di masa depan. Pasalnya, sekarang saja dalam jaringannya sudah ada tiga Bronze Lion. Mereka tengah berupaya melakukan pengembangan jaringan di Palembang. Jaringan mereka pun sekarang sudah ada di luar negeri seperti di Penang- Malaysia, dan Thailand. "Di Kota Medan sendiri perkembangan Tianshi luar biasa. Omset Tianshi di kota Medan sekarang ini merupakan yang terbesar di luar Pulau Jawa," tambahnya lagi.

Lingkungan Positif
Ady dan istrinya percaya bahwa kesuksesan itu milik setiap orang. "Kesuksesan tidak tergantung pada orang lain. Kami didukung kualitas produk Tianshi dan support sistemnya Tidak ada orang-orang yang beruntung, yang beruntung adalah orang-orang yang bekerja keras dan mengikuti sistem. Kami juga teachable, menurut dan percaya pada upline," tambah Ady.

"Kalau mau sukses, harus mau keluar dari lingkungan yang negatif. Lingkungan sekitar rumah saya dulu negatif, ada pengangguran, narkoba, judi. Yah saya sempat terikut. Tapi karena ingin sukses, saya harus keluar dari lingkungan itu dan selalu baca buku, ikut pertemuan, dan berjumpa dengan orang-orang yang sukses," ucap Ady.

"Yang paling penting jangan pernah berhenti di tengah jalan. Berani memulai, harus berani mengakhiri. Jangan tanggung-tanggung, jadi ultrakaya sekalian. Di bisnis ini tidak ada yang gagal, yang ada karena berhenti di tengah jalan. Apapun masalahnya, selesaikanlah, sampai tetes darah penghabisan," ujar mereka.

Membantu Orang Lain
Ady Gunawan bersama ADMIN UnicoreNetwork.com"Sekarang kami tidak lagi sekadar mengejar bonus dan reward karena boleh dibilang sekarang kami sudah mencapai kebebasan finansial. Tetapi kami ingin membantu para downline saya untuk mencapai kesuksesan seperti yang kami miliki. Kalau melihat ada downline yang sukses, tidak bisa diukur nilainya dengan uang. lbarat orangtua yang melihat anaknya sukses, kami merasa bangga," tambahnya

Ady Gunawan menyampaikan agar para downlinenya yang menjadi orang mampu, mau menyumbangkan sebagian kekayaannya membantu fakir miskin dan orang yang kurang mampu. "Di sekeliling kita masih banyak orang yang perlu bantuan. Hidup di dunia ini hanya sementara dan kekayaan yang kita peroleh tidak akan kita bawa mati. Sudah seharusnya kita tidak hanya mengejar 'aset duniawi' tetapi juga membangun 'aset untuk akhirat"' tuntasnya mengakhiri. Gabung Disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar